Profil
· A. PROFIL
· B. VISI,MISI,MOTTO
· C. STRUKTUR
· D.SARANA/PRASARANA
· E. PROSEDUR
· F. PROGRAM LAYANAN
· G. PEKERJA SOSIAL
· H. PENYULUH SOSIAL
· I.REHABLITASI SOSIAL
· J.ADVOKASI SOSIAL
· K. OUTREACHER (TRC)
· L. KONTAK

Login
Nama Login

Password

Daftar
Lupa Password.

Menu Utama
· Depan
· Akun Anda
· Arsip Berita
· Downloads
· Gallery
· Kirim Berita
· Kontak
· Search
· Top 10
· Topics
· Web Links

Melayani Lansia dengan Spirit Cinta
-----------------------------------------------------------------------------------
Dipublikasi pada Rabu, 09 November 2011 by bambangth
-----------------------------------------------------------------------------------

Artikel syamsuddingido menulis "

Beberapa pekan yang lalu salah satu media televisi swasta nasional menyoroti buruknya sistem pelayanan yang diberikan oleh panti sosial tresna werdha yang ada di Pare-pare. Tampak seorang lansia terbaring disebuah ruangan dengan kondisi yang sangat tidak layak. Sontak saja membuat petinggi negeri ini menjadi geram termasuk gubernur Sulawesi Selatan, langsung bereaksi dengan mencopot kepala PSTW mappakasunggu pare-pare. Kebetulan panti tersebut milik pemerintah pemrov Sulawesi selatan melaui dinas sosialnya. Tentu saja efek dari tayangan, adalah semakin memberikan pencitraan yang buruk terhadap panti jompo atau panti werdha secara keseluruhan.



Walaupun tentu saja tida semua panti werdha kondisinya buruk seperti yang pernah ditayangkan, jika dibandingkan dengan panti werdha yang di kelolah langsung oleh kementerian sosial kondisinya jauh lebih baik, bahkan sudah sampai pada pengembangan program guna merespon perkembangan kebutuhan lansia yang terus meningkat. Program yang diberikan bukan sekedar program regular berupa pelayanan langsung dalam panti, tapi program terobosan seperti; home care (pelayanan dalam rumah lansia sendiri), day care (program ini mirip dengan penitipan anak), pelayanan trauma lanjut usia (untuk lansia yang mengalami trauma akibat kekerasan, konflik sosial, maupun korban bencana alam).

“Apalah arti sebuah nama” kata William Shakespeare, tapi kalau kita mengacu pada ajaran Islam nama adalah do’a yang bermuatan ekspektasi jauh kedepan. Nama dapat memberikan spirit dan menjadi indikator untuk bergerak, nama juga menunjukkan identitas serta simbol yang membungkus kualitas sebuah entitas. Secara terminologi masyarakat lebih mengenal panti jompo untuk intitusi kemanusiaan yang diperuntukkan bagi lanjut usia ini, padahal institusi ini telah lama menyandang nama sebagai Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW). Mengapa “panti jompo” masih menjadi terma yang familiar terhadap di masyarakat? kemungkinannya karena lembaga ini belum pernah berhasil membangun image positif dalam pemberian pelayanannya. Pantinya masih jompo, kesannyapun masih jorok, berbau, bergulat dengan penyakit dan nihil harapan. Apakah kesannya ataupun memang kenyataannya? Realita membentuk persepsi, bisa jadi ?. Masakan yang dikelolah dengan racikan yang terbaik akan memberikan cita rasa yang manyus bagi penyantapnya.

Upaya kementerian sosial yang merubah nama panti jompo menjadi panti tresna werdha, adalah sebuah upaya untuk membentuk branded positif, yang didalamnya mengandung harapan dan spirit untuk melayani lansia dengan penuh cinta kasih dan jauh dari suasana jompo, kotor, sakit-sakit, dan sekedar menunggu ajal. Tresna werdha berasal dari bahasa jawa yang artinya cinta lansia. Dari nama ini termuat sebuah harapan sebuah indikasi melayani lansia dengan spirit cinta dan kasih sayang. Tapi mengapa, kenyataanya jauh dari panggang dari api. Dalam hemat kami, mungkin masih rendahnya penghayatan kita terhadap makna tresna itu sendiri, mungkin karena berbahasa jawa yang kurang familiar sehingga kita kurang menggali maknanya, sehingga semangat cintanyapun tidak lebih dari sekedar nama. Padahal jika dicermati pertumbuhan penduduk kelompok lansia yang semakin meningkat dari tahun ketahun, ditambah pola tipe keluarga yang bergerak pada tipe nuclear family (keluarga inti/ayah, ibu dan anak).

kehadiran panti werdha saat ini dan kedepan akan semakin dibutuhkan, ditengah keluarga yang semakin tidak punya waktu untuk mengurus lansia. Tentu saja kita berharap bahwa keluarga adalah institusi pertama dan utama untuk memberikan perawatan dan perlidungan kepada lansia, akan tetapi panti werdha dapat menjadi solusi atau aternatif jika sebuah kondisi menyebabkan keluarga tidak memiliki kemampuan serta kesempatan untuk melaksanakan salah satu fungsinya tersebut. Karena itulah semua panti werdha diharapkan mampu berbenah dan memaksimalkan pelayanan. Poros pelayanan mesti berpijak pada aspek bio-psiko-sosial-spiritual, biologis, psikis, sosial dan spiritual. Biologis terkait dengan pemenuhan kebutuhan fisik (makan, pakaian, tempat tinggal yang layak), sementara aspek psikisnya termasuk rasa berharga dan bermakna, secara sosial mereka dapat membangun interaksi dan komunikasi yang positif dengan sesama lansia atau dengan petugas termasuk kontak dengan kerabat atau keluarga, tinggal dipanti bukan berarti terputusnya komunikasi dengan lingkungan luar. aspek spiritual terkait dengan pelaksanaan ibadah dan keterpenuhan semangat transendensi antara lansia dengan penciptanya.

Jika aspek – aspek ini diperhatikan dan dimulai dari sekarang sebagai cita-cita dan misi maka pelayanan panti akan bergerak dari panti jompo menjadi panti sosial tresna werdha (panti yang melayani lansia dengan semangat cinta).

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam rangka membangun pelayanan maksimun menuju panti werdha dengan semangat tresna, yakni :

pertama, pendekatan hak asasi manusia,

artinya sekalipun lansia tersebut berasal dari kalangan miskin dan terlantar serta mendapatkan pelayanan yang ‘gratis” dari pemerintah, akan tetapi mereka tidak boleh direndahkan karena pada hakekatnya mereka adalah warga Negara Indonesia yang berhak mendapatkan jaminan penghidupan yang layak secara kemanusiaan, kedudukan mereka (lansia) dengan para petugas adalah setara.

Kedua, semangat cinta dan kasih sayang harusnya menjadi roh dari seluruh aspek pelayanan.

Ketiga: prinsip kemandirian, pemberdayaan, penghargaan, dan kebermaknaan.

Tidak semua lansia di panti werdha adalah jompo (tidak berdaya) bahkan di PSTW Gau Mabaji gowa salah satu panti werdha yang dikelolah langsung oleh kementerian sosial, lansia yang masuk kategori jompo dan membutuhkan perawatan total hanya sekitar 1-2 % dari 100 orang lansia yang dilayani, sehingga para lansia ini perlu terus diberikan motivasi, kesempatan dan media untuk menjaga produktifitasnya , kemandiriannya, untuk menghasilkan rasa berharga dan bermakna dalam hidupnya. Para lansia ini juga harus diberikan rasa tanggung jawab sosial untuk ikut berpartisipasi dalam menjaga lingkungan sosialnya, jika lansianya masih mampu beraktivitas, maka berilah kesempatan kepada mereka untuk menjadi berguna bagi sesamanya, mereka masih bisa melaksanakan hal-hal sederhana, seperti membersihkan kamar/ asrama , merawat tanaman, ataupun menolong sesamanya lansia.

Libatkan mereka dalam berbagai kegiatan yang bertujuan untuk memertahankan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik mereka. Misalnya terdapat perpustakaan yang menyediakan buku-buku dan bahna bacaan lainnya, program brain gym serta learning memory lainnya dalam rangka mempertahkan kemampuan kognitif dan memori lansia. Secara afeksi mereka pihak panti dapat mendesaian dinamika terapi kelompok untuk membangun rasa kebersamaan, rasa cinta, keercayaan diri dan kebahagiaan. Secara psikomotorik mereka bisa dilibatkan dalam kegiatan kebugaran jasmani, seperti senam lansia, jogging, dll.

Manajemen Pelayanan Panti

Keterbatasan anggaran tentu saja selalu menjadi alasan, akan tetapi jika manajemennya pelayanannya tepat, maka budget yang terbatas tapi dikelolah secara baik dapat menghasilkan mutu pelayanan yang prima dan maksimum. Institusi ini diharapkan mampu mengoptimalkan sumber daya yang ada (SDM termasuk keuangan). Partisipasi dan pelibatan masyarakat/dunia usaha dan institusi pendidikan merupakan salah satu upaya untuk mengoptimalkan pelayanan. Saya melihat bahwa potensi kepedulian masyarakat terhdap pelayanan lansia adalah sangat besar tergantung bagaimana pihak panti untuk memulai komunikasi dengan system sumber yang ada di masyarakat. Untuk membangun kepedulian masyarakat, dunia usaha dan dunia pendidikan Syarat pertama yang harus dibangun adalah trust, bagaimana mereka membangun trust bahwa panti yang bersangkutan layak untuk diberi bantuan serta amanah dalam menerima kepercayaan.

"



 
Link Terkait
· Lebih Banyak Tentang Artikel
· Berita oleh bambangth


Berita terpopuler tentang Artikel:
PROGRAM LAYANAN SOSIAL LANJUT USIA DI BEBERAPA NEGARA


Nilai Berita
Rata-rata: 0
Pemilih: 0

Beri nilai berita ini:

Luar Biasa
Sangat Bagus
Bagus
Biasa
Jelek


Opsi

 Versi Cetak Versi Cetak


"Melayani Lansia dengan Spirit Cinta" | Login / Daftar | 0 komentar
Isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengirimnya.
Panti Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji Gowa
Kementerian Sosial RI Admin Web 2013 - Andisnebo