Profil
· A. PROFIL
· B. VISI,MISI,MOTTO
· C. STRUKTUR
· D.SARANA/PRASARANA
· E. PROSEDUR
· F. PROGRAM LAYANAN
· G. PEKERJA SOSIAL
· H. PENYULUH SOSIAL
· I.REHABLITASI SOSIAL
· J.ADVOKASI SOSIAL
· K. OUTREACHER (TRC)
· L. KONTAK

Login
Nama Login

Password

Daftar
Lupa Password.

Menu Utama
· Depan
· Akun Anda
· Arsip Berita
· Downloads
· Gallery
· Kirim Berita
· Kontak
· Search
· Top 10
· Topics
· Web Links

Taat yang Tercela
-----------------------------------------------------------------------------------
Dipublikasi pada Jumat, 30 September 2011 by bambangth
-----------------------------------------------------------------------------------

Artikel menulis "

Kata taat secara umum dikaitkan dengan nilai-nilai kebaikan, yang biasanya berasosiasi dengan kualitas agama seseorang. Namun, apakah setiap ketaatan selalu berkaitan dengan kebaikan? Ternyata TIDAK. 

Pertanyaan sederhana, apakah seorang pegawai yang taat kepada pimpinannya dapat dikatakan sebagai seorang pegawai yang baik? Jawabannya tergantung dari sudut pandang yang memberikan jawaban, yaitu jika pengertian pegawai yang baik tersebut tergantung sepenuhnya kepada pimpinan, maka pasti hanya pegawai yang taat kepada pimpinan yang dikatakan baik. 
 
Dalam Islam ketaatan menggambarkan kejernihan aqidah seseorang, yang dapat kita golongkan menjadi 2 jenis ketaatan, yakni (1) Taat Yang Terpuji, dan (2) Taat yang tercela. 
 
Taat Yang Terpujji
Taat yang terpuji adalah ketaatan yang didasarkan atas ketaatan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Seorang pegawai hanya mematuhi pimpinan ketika ia yakin benar bahwa apa yang pimpinan instruksikan tidak bertentangan dengan apa yang dilarang oleh Allah SWT. Bahwa instruksi yang diberikan merupakan perintah dalam rangka mentaati Allah SWT dan Rasulullah SAW.
 
Rasa hormat dan kepercayaan kepada pimpinan, tidak menjadikan dirinya taat secara membabi buta kepada pimpinan. Dirinya akan berhati-hati atas instruksi yang diperolehnya. Pimpinan juga seorang manusia, siapa tahu syetan sedang menggodanya sehingga pimpinan mengeluarkan instruksi yang tidak disukai oleh Allah SWT. 
 
Oleh sebab itu, perlu bagi kita untuk terus meningkatkan pengetahuan akan ajaran Islam, yang salah satu manfaatnya adalah membantu diri kita menilai apakah sebuah instruksi patut untuk segera dilaksanakan atau perlu dikritisi dan tidak ditaati. Secara ideal, yakni jika mampu, seorang pegawai muslim tidak perlu ragu untuk mengingatkan pimpinan dan manasehatinya jika mengeluarkan instruksi yang batil, sehingga pimpinan sadar dan bertaubat. Karena hanya Ridha Allah tujuan kita. 


 Taat Yang Tercela

 Ketaatan yang tercela ialah ketika seorang pegawai mematuhi pimpinan semata-mata karena ia meyakini prinsip bahwa setiap pimpinan harus ditaati, apapun isi perintahnya, bagaimanapun keadaannya, suka atau tidak suka. 
 
Yang lebih memalukan adalah mereka bangga dengan ketaatan mereka tersebut tidak peduli bahwa instruksi pimpinanmerupakan perintah yang batil, perintah yang bertentangan dengan perintah dan larangan Allah SWT dan RasulullahSAW.
 
Sering kita dengar bukan, bahwa, teman, sahabat, ataupun atasan langsung kita mengatakan Sudahlah, tidak usah diperdebatkan lagi, pimpinan kita lebih tahu daripada kita, kita taat saja pada apa yang mereka instruksikan, mereka sudah mempertimbangkan masak-masak, tidak mungkin apa yang mereka suruh itu buruk buat kita, biar mereka yang menanggung segala resikonya, kita hanya staf. 
Namun sadarkah kita, bahwa dosa dan kesalahan yang kita perbuat dipikul oleh kita sendiri?
 
Hanya karena kita takut tidak naik pangkat, 
hanya karena kita takut tidak memiliki teman, 
hanya karena kita khawatir tidak disukai pimpinan, 
hanya karena kita was-was pimpinan tidak lagi membutuhkan kita, 
hanya karena kita staf dan mereka pimpinan, 
haruskah kita menggadaikan Ridha Allah SWT dengan ridha para pimpinan? 
 
Kita harus terus bersikap kritis dan teliti jangan sampai ketaatan kepada pimpinan menyebabkan hilangnya keridhaan Rasulullah SAW bahkan keridhaan Allah SWT? Mungkinkah itu terjadi? Mungkin sekali. Karena itulah Rasulullah SAW bersabda:
 
Akan muncul pemimpin-pemimpin yang kalian kenal, tetapi kalian tidak menyetujuinya.Orang yang membencinya akan terbebaskan (dari tanggungan dosa). Orang yang tidak menyetujuinya akan selamat. Orang yang rela dan mematuhinya, tidak terbebaskan (dari tanggungan dosa). Para sahabat langsung menyelak: Bagaimana jika kita perangi saja? Nabi SAW menjawab: Tidak! Selama mereka masih shalat. (MUSLIM 3445)
 
 
Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata: Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul. Dan mereka berkata: Ya Rabb kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Rabb kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar. (QS Al-Ahzab 66-68)
 
Jadi simpulannya adalah, ada tiga hal yang dapat dijadikan pedoman dalam mentaati instruksi pimpinan: 
1. Perintah dan Larangan Allah SWT.
2. Aturan atau perundangan yang berlaku.
3. Opini publik.
Tentu saja kepatuhan yang utama adalah hanya kepada Allah SWT, kita hanya boleh taat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW. Jika aturan atau perundangan yang berlaku serta opini publik bertentangan dengan Perintah dan Larangan Allah SWT, maka kita tidak harus taat kepadanya, karena tidak akan pernah mendapatkan Ridha Allah SWT.
 
Source : Eramuslim.com
"



 
Link Terkait
· Lebih Banyak Tentang Artikel
· Berita oleh bambangth


Berita terpopuler tentang Artikel:
PROGRAM LAYANAN SOSIAL LANJUT USIA DI BEBERAPA NEGARA


Nilai Berita
Rata-rata: 5
Pemilih: 3


Beri nilai berita ini:

Luar Biasa
Sangat Bagus
Bagus
Biasa
Jelek


Opsi

 Versi Cetak Versi Cetak


Topics Terkait

Manajemen

"Taat yang Tercela" | Login / Daftar | 0 komentar
Isi komentar adalah tanggung jawab masing-masing pengirimnya.
Panti Sosial Tresna Werdha Gau Mabaji Gowa
Kementerian Sosial RI Admin Web 2013 - Andisnebo